Sambil menunduk , kuperhatikan arah jarum jam ,tak terasa sudah jam sembilan malam lebih, ditemani beberapa orang yang berlalu lalang, menapaki jalan setapak di malam itu,sebagian orang masih sibuk menutup tokonya, sebagian lagi mengepak dan membereskan dagangan serta mulai menarik gerobaknya pulang.
Malam yang luar biasa indah,bulan malu dibalik bayang awan kelabu, waktu berlalu dengan cepat saat itu, ditemani rintikan hujan yang mulai membasahi sweater abu- abuku, bisikan angin yang mengenai daun kupingku ,menghembuskan nafas kesegaran tiada Tara, begitu menenangkan jiwa ini.
Lahir di timur , aku melihat sang Surya bersinar, menerangi tanpa jenuh masa kekanakan ku yang tak tergantikan lagi. Di usia remaja aku melihat begitu dahsyat dan kerasnya deburan laut Selatan, yang menggulung tak putus-putus. Ketika dewasa aku liat ketenangan dan indahnya alam ujung kulon ini. Setelah ini , setelah dewasa nanti aku mungkin berharap sang Utara mau menemani tiap langkah hidupku.
Tiap langkahku aku hanya bisa berdoa dan berusaha , supaya Tuhan selalu menyertainya, seiring manis dan getirnya nada dan symphony lagu kehidupan ini, membuat mata hati kita semakin tajam, arah hidup kita tak akan pernah ada yang tahu, yah "only God knows why the way's gonna be".
Berbuat yang terbaik dan mainkan rangkaian alunan musik kehidupan ini, semakin lagu indah terdengar, semakin menenangkan jiwa - jiwa yang kehilangan. Ciptakan musik harmonis yang mampu meninabobokan mereka yang gelisah dan resah .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar